Rubrik

Seminar Peran Riset Obat dan Makanan dalam Menunjang Kebijakan Pengawasan Obat dan Makanan

Posted On : 2011-12-13 14:46:00

Pada Tanggal 8 Desember 2011, Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM) Badan POM RI mengadakan Seminar Pusat Riset Obat dan Makanan dalam Menunjang Kebijakan Pengawasan Obat dan Makanan di Jakarta. Di awal seminar dilakukan launching tiga buah buku yaitu Buku Atlas Profil Kromatogram Tanaman Obat Indonesia, Buku Pedoman Uji Toksisitas Non Klinik secara In Vivo, dan Buku Pengembangan Metode Analisis Migrasi Kemasan Pangan (ftalat) ke dalam Simulan Pangan.

Kemudian, seminar yang terdiri dari kuliah tamu ini diisi oleh 6 orang pakar di bidangnya masing-masing, yaitu:

1.       Prof. Maggy Thenawidjaja (IPB)

Dalam presentasinya yang berjudul Keamanan dan Pelabelan GMO pada Produk Pangan, Prof. Maggy Thenawidjaja menyampaikan bahwa GMO merupakan Pangan PRG hasil Rekayasa Genetika yang mengandung fragmen DNA sisipan dari organisme lain. Proses modifikasi gen di laboratorium ini menghasilkan pangan dengan karakteristik yang lebih menguntungkan. PRG ini telah melalui tahapan regulasi Nasional dan Internasional yang ketat serta dilakukan proses pengkajian oleh tim teknis. Indonesia sudah memiliki perangkat dan sistem pengawasan keamanan pangan hasil rekayasa genetika. PRG yang telah memiliki hasil data yang lengkap dan scientific akan diajukan kepada BPOM untuk mendapatkan sertifikat keamanan pangan.

2.       Prof. Edi Meiyanto (UGM)

Prof. Edi Meiyanto menyampaikan materi mengenai In Vitro Toxicity Testing. Penelitian Prof. Edi ini didasarkan pada pernyataan FDA (2008) yaitu “Because animal experimentation has become an emotional issue, it is important to recognize the growing impact of in vitro toxicology on the practice of toxicology.” Uji toksisitas secara in vitro ini dilakukan pada Primarily human biology. Uji toksisitas secara in vitro ini dapat memberikan data toksisitas makanan dan pewarna makanan, serta dapat digunakan untuk mengelusidasi interaksi senyawa uji dengan organisme pada level seluler, subseluler, dan molekul. Keuntungan metode ini yaitu dapat menghemat secara ekonomi dan lebih efisien, serta dapat memberikan informasi tentang senyawa toksik yang relevan. Akan tetapi, etode ini juga memiliki kekurangan yaitu tidak tersedia untuk semua jaringan dan organ, tidak dapat digunakan untuk mempelajari senyawa alam kompleks terhadap toksisitas sistemik, serta validasi metode baru membutuhkan biaya dan waktu yang banyak.

3.       Prof. H. M Yuwono (UNAIR)

Dalam seminar ini, Prof. Yuwono menjelaskan materi mengenai Pengembangan
Metode Analisis Obat, Makanan, dan Kosmetik. Dalam melakukan analisis terdapat prosedur yang harus dilakukan yaitu pengambilan Sampel Obat, Obat Tradisional, Makanan, Kosmetik. Kemudian melakukan analisis yang terdiri dari Ekstraksi, Clean up, analisis data. Jika diperlukan, dapat dilakukan pengembangan metode dan validsasi metode. Analisis yang dilakukan harus bersumber pada Quality Assurance: ISO 17025/GLP. Setelah proses analisis yaitu pembuatan laporan hasil.

4.       Dr. Abdul Mun’im (UI)

Dr. Abdul Mun’im menyampaikan materi mengenai Standardisasi dan Isolasi Senyawa Aktif Bahan Alam. Standardisasi penting diterapkan pada ekstrak untuk melihat kualitas reprodusibel dan membandingkannya terhadap produk dengan senyawa baku yang dikenal atau menyatakan jumlah minimum senyawa atau beberapa senyawa  atau golongan senyawa. Salah satu pamater kandungan kimia dapat dilihat dari pola kromatogram, total golongan kandungan kimia, atau kadar kandungan kimia tertentu (senyawa identitas). Isolasi senyawa aktif dapat dilakukan dengan metode fraksinasi dan isolasi, penentuan struktur, dan aktivitas biologi.

5.       Prof. Frans Suyatna (UI)

Prof. Frans Suyatna menyampaikan materi mengenai Prospek Riset Toksisitas dalam Menunjang Pengawasan Obat dan Makanan. Riset toksikologi harus bersifat integrasi dan responsif untuk regulatori, serta independen dan berkualitas. Rancangan strategik yang harus dilakukan untuk mengembangkan riset toksikologi yaitu pertama mengembangkan, melakukan validasi metode baru, dan melaksanakan riset inovatif. Kedua, keamanan premarket dan preklinik meliputi makanan, kosmetik, suplemen, obat untuk manusia dan hewan dan alat kesehatan. Ketiga, mengembangkan material, metode dan proses komunikasi baru dan inovatif yang digunakan secara internal dan eksternal untuk masyarakat. Keempat, memperkuat dan memperbaharui manajemen administrasi untuk menunjang tujuan badan regulatori.

6.       Dr. Endang Warsiki (IPB)

Dr. Endang Warsiki menyampaikan materi mengenai Pengembangan Metode Analisa pada Migrasi Kemasan Pangan ke dalam Pangan. Interaksi antara bahan kemasan dan pangan merupakan reaksi kimia dan/atau fisika antara makanan, kemasannya dan lingkungan yang dapat mengubah komposisi, kuallitas atau sifat fisik makanan dan/atau bahan kemasan. Interaksi ini dapat bersifat merugikan atau mungkin dapat meningkatkan kualitas pangan. Konsekuensi dari interaksi yang terjadi akan menyebabkan migrasi, sorpsi atau permeasi. Tujuan dari dilakukannya test migrasi adalah untuk menyakinkan keamanan makanan dan melindungi konsumen dari bahan-bahan berbahaya yang mungkin berpindah dari kemasan ke dalam makanan yang dikemas.