Berita Hangat

Fortifikasi Tepung Terigu Terkait SNI Wajib

Posted On : 2012-04-03 14:46:47

 

Studi makanan di China, India, Indonesia, Malaysia, Philippines, dan Sri Lanka pada Tahun 2009 bertujuan untuk melakukan fortifikasi pada tepung terigu sesuai dengan rekomendasi WHO (berdasarkan estimasi konsumsi tepung terigu di masing-masing negara), menguji efek saat pemprosesan dan teknologi makanan, sensor, dan physical attributes, serta mengevaluasi retensi dari zat gizi pada produk akhir makanan.

 

Studi di Indonesia dilakukan oleh PT. Indofood. Makanan yang diuji di Indonesia yaitu mie basah, roti kukus/bakpao, roti tawar, dan martabak. Tingkat fortifikasi yang digunakan yaitu besi NaFeEDTA sebesar 40 ppm, besi ferrous fumarate sebesar 60 ppm, asam folat sebesar 2,6 ppm, Vitamin B12 (cyanocobalamin) sebesar 0,02 ppm, seng (seng oksida) sebesar 55 ppm, Vitamin B1 (thiamin) sebesar 4,2 ppm, dan Vitamin B2 (riboflavin) sebesar 4 ppm. Tingkat fortifikasi berdasarkan estimasi konsumsi terigu sebesar 75-150g/capita/hari.

 

Hasil studi di Indonesia menunjukkan bahwa secara keseluruhan mie basah tidak ada perubahan secara signifikan dan untuk NaFeEDTA sedikit menjadi gelap, tidak ada perbedaan di tekstur, rasa, dan aroma. Produk akhir roti kukus/bakpao dapat diterima dan terjadi sedikt perubahan pada NaFeEDTA yaitu warna sedikit gelap, ferrous fumarate warnanya menjadi lebih terang, namun tidak ada perbedaan di tekstur, rasa, dan aroma. Produk roti tawar tidak ada perubahan rasa (sensory) dan tidak ada perubahan warna. Dan untuk martabak, warnanya menjadi sediki gelap dengan NaFeEDTA,  namun tidak ada perbedaan di tekstur, rasa, dan aroma.

 

Kesimpulan dari studi yaitu :

  1. Perbedaan pemprosesan dan organoleptic antara produk makanan yang difortifikasi dan tidak sangatlah minim, dan diperkirakan dapat diterima untuk seluruh produk yang diuji.
  2. Tidak ada perbedaan secara signifikan yang dilaporkan mengenai jenis besi yang digunakan pada produk yang difortifikasi, dalam proses dan karakteristik sensorik. Peneliti tidak melihat adanya perbedaan antara electrolytic iron dan NaFeEDTA, ferrous sulphate atau ferrous fumarate dalam hal parameter utama, dan perbedaan minor diperkirakan dapat diterima.
  3. Dalam hal penerimaan acceptability, produk yang difortifikasi dapat disamakan/tidak berbeda dengan produk yang tidak difortifikasi.
  4. Zat gizi mikro sepertinya dapat bertahan selama proses pembuatan makanan (retensi baik).
  5. Tampaknya dimungkinkan untuk melakukan fortifikasi tepung terigu sesuai dengan rekomendasi WHO di Indonesia.

 

Analisa Benefit-Cost 2010-2019

  • Total kerugian karena IDA (Iron-Deficiency Anemia) dan NTDs (Neural Tube Defects) yaitu US$ 9,6 milyar/10 tahun.
  • Estimasi penurunan IDA adalah 14,5% untuk dewasa, 12,6% untuk anak <15 tahun, dan 2,9% untuk ibu hamil dari program fortifikasi tepung dengan besi dan asam folat.
  • Selain itu, dapat terjadi penurunan kematian perinatal dan NTDs.
  • Estimasi keuntungan dari fortifikasi tepung terigu yaitu US$ 1,16 milyar/10 tahun.
  • Biaya Premix untuk fortifikasi tepung terigu (10 tahun): SNI (saat ini) US$ 8,5 juta dan SNI (rekomendasi terkini WHO) US$ 16 juta.
  • Keuntungan: cost ratio (SNI terkini) adalah US$ 8,17 untuk setiap pengeluaran sebesar US$ 1.
  • Benefit cost ratio naik menjadi US$ 15,14 tanpa memperhitungkan biaya premix untuk thiamin, riboflavin, dan zinc, yang mana benefitnya belum dihitung.
  • Estimasi perubahan harga untuk SNI (saat ini Indonesia) dengan dosis 110-300 ppm micronutrient sebesar Rp. 11.300– 15.800/(1MT = 1000kg) atau sebesar Rp 11 – 16/kg. Sedangkan, untuk SNI (rekomendasi terkini WHO) dengan dosis 350-450 ppm micronutrient sebesar Rp. 22.600 – 31.657/(1MT = 1000kg) atau sebesar Rp 23 – 32/kg.