Kegiatan

Executive Gathering PIPIMM Tahun 2012

Bertempat di : Auditorium Gedung Utama Kementerian Perdagangan

 

Acara ini di adakan pada Hari Senin 25 Juni 2012 bertempat di Ruang Auditorium Gedung Utama Kementerian Perdagangan. Hadir sebagai pembicara Wakil Menteri Perdagangan Bapak Bayu Krisnamurthi yang didampingi oleh Bapak Suroso Natakusuma selaku Ketua Umum PIPIMM, Bapak Benny Wahyudi Dirjen Industri Agro, Bapak Roy Sparringa Deputi 3 Badan POM, Bapak Gunaryo Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, dan Ibu Nus Nuzulia Ishak Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen. Dalam Acara Executive Gathering ke-3, PIPIMM mengusung tema Membangun Industri Makanan dan Minuman Kebanggaan Indonesia. Tema ini diusung dalam rangka mendorong industri makanan dan minuman meningkatkan promosi produk-produk makanan Indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Acara yang dihadiri oleh industri makanan dan minuman, asosiasi, serta instansi pemerintahan ini diselenggarakan atas kerjasama PIPIMM dengan Kementerian Perdagangan, yang merupakan tindak lajut dari pertemuan dengan wakil Menteri Perdagangan Bapak Bayu Krisnamurthi. Dari pertemuan tersebut, didapatkan point terpenting yaitu bagaimana membangun industri makanan dan minuman agar menjadi kebanggaan Indonesia. Dalam sambutannya, Bapak Bayu Krisnamurthi sebagai pembicara utama, mengharapkan agar PIPIMM tidak membatasi diri hanya menangani masalah Bahan Tambahan Pangan saja, karena sebenarnya masalah tentang makanan dan minuman banyak sekali. Dengan mampu memberikan informasi-informasi terkait dengan isu-isu produk Indonesia. Misalnya mengkampanyekan pentingnya membaca kemasan, bahan-bahan yang terkandung, serta waktu kadaluarsa setiap produk. Selain itu, Beliau mengajak seluruh industri makanan dan minuman agar  lebih proaktif dalam mempromosikan produk Indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga produk Indonesia dapat lebih dicintai oleh masyarakat dan terkenal di luar negeri. Selain mengangkat promosi sebagai program yang penting dalam membangun industri makanan dan minuman, beliau juga menyampaikan pentingnya peran industri-industri makanan dan minuman mengembangkan  “new  initiative” produk-produk Indonesia yang berbeda, dan berkualitas yang dihasilkan dari bahan-bahan baku dalam negeri. Dalam diskusi terbuka Prof. Winarno menyampaikan programinitiativeyang dapat dikembangkan sebagai bentuk konkrit, yaitu dengan mengembangkan produk dari bahan baku laut dan beras. Indonesia sebagai bangsa bahari yang sebagian besar memiliki kekayaan alam khususnya kelautan, harus mulai berpikir untuk mengembangkan industri merintis dengan membangkitkan produk makanan dan minuman melalui makanan laut. Sedangkan Pak Benny Wahyudi yang menanggapi hasil diskusi, juga memberikan beberapa penjelasan mengenai masalah-masalah yang dihadapi dalam pengembangan industri makanan dan minuman diantaranya masih kurangnya pengetahuan bagaimana bahan baku harus diproduksi, ketersediaan bahan baku yang langka, serta produksi susu yang masih kurang dan rendahnya produktivitas. Selain itu, masalah lainnya adalah belum adanya kesepakatan untuk mengembangkan lahan pertanian menjadi sebuah industri, karena sampai saat ini hanya sebatas pemberdayaan petani saja. Sehingga masih kurang untuk menghasilkan produk-produk yang berkualitas. Masalah teknologipun tidak kalah pentingnya, Beliau menjelaskan rendahnya teknologi yang digunakan oleh industri-industri dalam proses produksi makanan dan minuman merupakan salah satu faktor yang menghambat industri makanan dan minuman dalam memproduksi makanan yang berkualitas. Acara ini semakin menarik dengan beberapa paparan yang disampaikan oleh Bapak Franky Sibarani, selaku Sekretaris Jenderal PIPIMM, mengenai beberapa produk ilegal yang ditemukan di toko maupun supermarket besar seperti produk tanpa label Bahasa Indonesia, pelabelan dengan stiker, produk tanpa penjelasan kadaluarsa, dan lain-lain. Dengan semakin banyaknya produk ilegal yang beredar di pasaran, beliau menekankan pentingnya ketegasan implementasi regulasi yang telah dibuat serta peran koordinasi antara Kementerian Perindustrian, BPOM, dan Kementerian Perdagangan untuk bekerjasama menindak masalah ini. Acara seperti ini dirasa cukup penting untuk terus diadakan secara rutin dan berkelajutan, dengan saling berdiskusi antara industri makanan dan minuman, pemerintah maupun asosiasi untuk mencapai tujuan yang sama. Bapak Suroso juga menyampaikan perlunya peran respon aktif industri dalam melakukan pendekatan-pendekatan dalam membangun industri makanan dan minuman Indonesia.