Artikel

GENETICALLY MODIFIED ORGANISMS (GMO)

Posted On : 2016-09-26 12:55:13

Ancaman terjadinya krisis pangan yang mengiringi peningkatan penduduk di dunia, mendorong dilakukannya berbagai inovasi dalam memproduksi pangan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.  Salah satu inovasi yang dilakukan adalah berupa produk pangan rekayasa genetik yang diproduksi menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan, dana atau bahan lain yang dihasilkan dari proses rekayasa genetik. Rekayasa genetik dilakukan dengan cara pemindahan gen antara satu makhluk hidup lainnya. Genetically Modified Organisms (GMO) didefinisikan sebagai organisme baik tumbuhan, hewan maupun organisme lainnya yang susunan DNA nya diubah melalui penggunaan teknologi rekombinasi DNA.

Produk GMO masih menjadi kontroversi di masyarakat. Di satu sisi, produk GMO semakin beragam dan menarik untuk dikonsumsi, namun di sisi lain produk GMO masih menimbulkan kekhawatiran akan adanya risiko terhadap kesehatan manusia. Beberapa aspek yang menjadi kekhawatiran terhadap produk GMO adalah kecenderungan untuk menyebabkan reaksi alergi (alergenisitas), transfer gen dan outcrossing.

 

1.  Alergenisitas

Protokol untuk pengujian tersebut telah disiapkan dan dievaluasi oleh FAO dan WHO. Faktanya selama ini tidak ditemukan adanya efek alergi dalam pangan PRG yang beredar di pasar internasional

2. Transfer gen

Transfer gen dari pangan PRG ke dalam sel tubuh atau ke bakteri di dalam sistem pencernaan menimbulkan kekhawatiran jika material genetik yang ditransfer dapat merugikan kesehatan manusia. Hal ini bisa terjadi jika terjadi transfer gen yang resisten terhadap antibiotik digunakan dalam pembuatan produk organisme rekayasa genetik. Para ahli dari FAO dan WHO telah menyarankan penggunaan teknologi tanpa gen resisten antibiotika meskipun sangat kecil kemungkinan terjadinya transfer tersebut.

3. Outcrossing

Peluang terjadinya perpindahan atau pergerakan gen dari tanaman rekayasa genetik ke tanaman konvensional atau spesies yang terdapat di alam sekitarnya (outcrossing) mungkin saja terjadi. Untuk mengatasi migrasi gen kini beberapa negara telah menggunakan strategi pemisahan lahan pertanian tanaman rekayasa genetik dengan lahan tanaman konvensional.

 

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal 109 menegaskan bahwa “Setiap orang dan/atau badan hukum yang memproduksi, mengolah, serta mendistribusikan makanan dan minuman yang diperlakukan sebagai makanan dan minuman hasil teknologi rekayasa genetik harus menjamin agar aman bagi manusia, hewan yang dimakan manusia, dan lingkungan”. Pemerintah mewajibkan pemeriksaan keamanan pangan PRG sebelum diedarkan (pre-market food safety assessment). Pengkajian keamanan dilakukan oleh Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG).
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah dalam mengawal beredarnya makanan hasil rekayasa genetik adalah dengan adanya aturan pemberian label pangan produk rekayasa genetik. Pelabelan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan dan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor HK.03.1.23.03.12.1564 Tahun 2012 tentang Pengawasan Pelabelan Pangan Produk Rekaya Genetik.
Dalam topik kontroversi makanan hasil rekayasa genetik, konsumenlah yang menentukan apakah pro atau kontra terhadap produk hasil rekayasa tersebut. Konsumen memiliki hak penuh untuk memilih menerima makanan hasil rekayasa genetik atau tidak dengan cara teliti membaca informasi mengenai apakah produk tersebut hasil rekayasa genetik atau tidak.


Sumber: http://ik.pom.go.id/v2014/artikel/Pelabelan-Pangan-Produk-Rekayasa-Genetik.pdf
http://www.who.int/foodsafety/areas_work/food-technology/faq-genetically-modified-food/en/