Artikel

Bagaimana Mendapatkan Label Halal?

Posted On : 2016-07-20 10:30:54

Setiap berbelanja Ayu selalu mengecek logo halal dalam makanan sebelum dimasukkan ke keranjang belanjanya.  Sebagai umat muslim, dia melakukan itu sebagai kebiasaan. “Saya tak mau kecolongan makanan yang tak halal,” kata Ayu.

Sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim, logo halal ini memang menjadi perhatian publik. Untuk memastikan kehalalalan sebuah makanan, cara yang paling mudah dengan mengecek label kemasan pangan, apakah  terdapat logo atau tulisan HALAL.

Amanat penggunaan tulisan dan logo halal ini telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, “Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dan menyatakan bahwa pangan tersebut halal bagi umat Islam, bertanggung jawab atas kebenaran pernyataan tersebut dan wajib mencantumkan keterangan atau tulisan halal pada label”.

Pencantuman logo atau tulisan Halal diatur secara khusus, produsen mesti mendapatkan sertifikasi halal terlebih dahulu dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sertifikat Halal adalah suatu fatwa tertulis dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari'at Islam. Masa berlaku Sertifikat Halal adalah 2 tahun sedangkan untuk daging yang diekspor Surat Keterangan Halal diberikan untuk setiap pengapalan.

LPPOM MUI mensyaratkan ketentuan produsen mempersiapkan Sistem Jaminan Halal dan membuat laporannya setiap 6 bulan. MUI juga meminta adanya tim Auditor Halal Internal (AHI) yang bertanggungjawab dalam menjamin pelaksanaan produksi halal.  Selain itu produsen diminta kesediaan untuk pemeriksaan secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. 

Prosedur sertifikasi halal dimulai dengan pendaftaran ke sekretariat LPPOM MUI. Pendaftaran berbeda aturannnya antara industri pengolahan, katering dan rumah potongan hewan. Produsen pengolahan harus mendaftarkan seluruh produk yang diproduksi di lokasi yang sama dan/atau yang memiliki merek/brand yang sama. Di samping itu produsen harus mendaftarkan seluruh lokasi produksi termasuk maklon dan pabrik pengemasan.

Bagi restoran dan katering, harus mendaftarkan seluruh menu yang dijual termasuk produk-produk titipan, kue ulang tahun serta menu musiman.  Restoran dan katering harus mendaftarkan seluruh gerai, dapur serta gudang.  Sementara bagi rumah potong hewan harus mendaftarkan seluruh tempat penyembelihannya.

Setiap produsen yang mengajukan permohonan Sertifikat Halal mengisi Borang mengenai informasi tentang data perusahaan, jenis dan nama produk serta bahan-bahan yang digunakan.

Borang yang sudah diisi beserta dokumen pendukungnya dikembalikan ke sekretariat LP POM MUI untuk diperiksa kelengkapannya, dan bila belum memadai perusahaan harus melengkapi sesuai dengan ketentuan.

Tim Auditor LPPOM MUI akan melakukan pemeriksaan atau audit ke lokasi proses produksi. Pada saat kunjungan auditor, perusahaan mesti dalam keadaan memproduksi produk yang akan disertifikasi.

Hasil audit ini bila diperlukan akan dilakukan cek laboratorium dan kemudian dievaluasi dalam Rapat Auditor LPPOM MUI.  Hasil audit yang belum memenuhi persyaratan akan diberitahukan lewat audit memorandum ke pihak produsen. Jika hasil audit memenuhi persyaratan, proses dilanjutkan dalam Sidang Komisi Fatwa MUI.  

Tak selamanya Sidang Komisi Fatwa MUI meloloskan, terkadang menolak laporan hasil audit jika dianggap belum memenuhi persyaratan kehalalalan. Setelah ada keputusan, produsen akan diberitahukan hasilnya.  Tiga bulan sebelum masa berlaku Sertifikat Halal berakhir, produsen harus mengajukan perpanjangan sertifikat halal kembali. (*)